Thursday 6 June 2019

Laporan praktikum laboratorium teknik kimia 1 aliran fluifa


BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang                
Transportasi fluida merupakan salah satu operasi teknik kimia yang sering  digunakan dalam industri, karena bahan baku dalam industri banyak yang berupa fluida. Sistem perpipaan digunakan untuk tempat mengalirnya suatu fluida. Fluida merupakan suatu zat yang tidak dapat menahan perubahan  bentuk secara permanen, jika diberikan sedikit gaya terhadapnya tidak bisa mempertahankan bentuknya. Fluida cair yang mengalir dalam sistem perpipaan dalam industri akan mengalami kehilangan energi karena adanya gesekan antara fluida dengan pipa. Hilangnya energi pada fluida dalam sistem perpipaan dapat pula disebabkan karena adanya gesekan, belokan, kontraksi, ekspansi. Besarnya gesekan yang terjadi tergantung pada kecepatan, diameter dan viskositas fluida yang digunakan. Gesekan yang terjadi dapat mempengaruhi aliran fluida dalam pipa, aliran ini dapat terjadi secara laminar atau turbulen yang nilainya dapat didekati dengan bilangan Reynolds.

1.2              Tujuan Percobaan
1.    Memahami dan mengerti tentang pola aliran fluida
2.    Mengukur debit dan preassure drop aliran fluida di dalam pipa.
3.    Membuat kurva head loss versus kecepatan linear aliran fluida
4.    Membuat kurva faktor gesekan versus bilangan Reynold.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sistem perpipaan dapat ditemukan hampir pada semua jenis industri, dari sistem pipa tunggal yang sederhana sampai sistem pipa bercabang yang sangat kompleks. Contoh berbagai sistem perpipaan adalah sistem distribusi air minum pada gedung atau kota, sistem pengangkutan minyak dari sumur bor ketangki penyimpan, sistem penyaluran oil, sistem distribusi udara pendingin pada suatu gedung, sistem distribusi uap pada proses pengeringan dan lain sebagainya. Sistem perpipaan meliputi semua komponen dari lokasi awal sampai dengan lokasi tujuan, antara lain yaitu saringan (strainer), katup atau valve, sambungan nosel dan sebagainya. Sambungan dapat berupa sambungan penampang tetap, sambungan penampang berubah, belokan (elbow) atau sambungan bentuk T (Geankoplis,1993)
2.1       Fluida
Fluida adalah suatu zat yang tidak dapat menahan bentuk secara permanen yang dapat mengalami perubahan bentuk mengikuti ruang yang ditempatinya. Terdapat dua jenis fluida, yakni : fluida termampatkan dan fluida tak termampatkan. Fluida mampu termampatkan (compressible) ialah ketika densitas fluida mudah dipengaruhi oleh perubahan temperatur dan tekanan. Fluida tak termampatkan (incompressible) ialah ketika densitas fluida tersebut tidak terpengaruh oleh banyaknya perubhan tekanan dan suhu. Fluida yang bergerak (mengalir) akan membentuk suatu pola aliran tertentu (Giles,1986).

2.2       Tipe Aliran fluida

Ada tiga tipe aliran fluida didalam pipa, yaitu :

1.                  Aliran Laminer

Aliran ini merupakan aliran fluida dengan kecepatan rendah. Partikel-partikel fluida mengalir secara teratur dan sejajar dengan sumbu pipa. Reynold menunjukkan bahwa untuk aliran laminer berlaku Bilangan Reynold, NRe < 2100. Pada keadaan ini juga berlaku hubungan head loss berbanding lurus dengan kecepatan linear fluida. Aliran laminar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a.                   Terjadi pada kecepatan rendah.

b.                  Fluida cenderung mengalir tanpa adanya pencampuran lateral.

c.                   Berlapis-lapis seperti kartu.

d.                  Tidak ada arus tegak lurus arah aliran.

e.                   Tidak ada pusaran (arus Eddy)

2.                  Aliran Transisi

Aliran ini merupakan aliran fluida dengan kecepatan diantara kecepatan linear dan kecepatan turbulen. Aliran berbentuk laminar atau turbulen sangat tergantung oleh pipa dan perlengkapannya. Reynold menunjukkan bahwa untuk aliran transisi berlaku hubungan bilangan Reynold, 2100 < NRe < 4000 (Giles,1986).

2.3       Bilangan Reynold dan Jenis Fluida
Bilangan Reynold adalah bilangan tanpa dimensi yang nilainya bergantung pada kekasaran dan kehalusan pipa sehingga dapat menentukan jenis aliran dalam pipa. Profesor Osborne Reynolds menyatakan bahwa ada dua tipe aliran yang ada di dalam suatu pipa yaitu :

1.        Aliran laminar pada kecepatan rendah dimana berlaku h Îą v

2.        Aliran Turbulen pada kecepatan tinggi dimana berlaku h Îą vn
Dalam penelitiannya, Reynolds mempelajari kondisi dimana satu jenis aliran berubah menjadi aliran jenis lain, dan bahwa kecepatan kritis, dimana aliran laminar berubah menjadi aliran turbulen. Keadan ini bergantung pada empat buah besaran yaitu: diameter tabung, viskositas, densitas dan kecepatan linear rata-rata zat cair. Lebih jauh ia menemukan bahwa ke empat faktor itu dapat digabungkan menjadi suatu gugus, dan bahwa perubahan jenis aliran berlangsung pada suatu nilai tertentu gugus itu. Pengelompokan variabel menurut penemuannya itu adalah:

𝑁𝑅𝑒 =𝜌 𝑉 𝐷
.....................................................(1)


         𝜇




              Dimana :       D = Diameter pipa (m)

V = Kecepatan rata-rata zat cair (m/s)

Îŧ     = Viskositas zat cair (kg/m.s)

Ī      = Densitas zat cair (kg/m3)

Gugus variabel tanpa dimensi yang didefinisikan oleh persamaan di atas dinamakan Angka Reynolds (Reynold’s Number). Aliran laminar selalu ditemukan pada angka Reynold di bawah 2.100, tetapi bisa didapat pada angka reynold sampai beberapa ribu, yaitu dalam kondisi khusus dimana lubang masuk pipa sangat baik kebundarannya dan zat cair di dalamnya sangat tenang. Pada kondisi aliran biasa, aliran itu turbulen pada angka Reynolds di atas kira-kira 4.000. Terdapat suatu daerah transisi yaitu pada angka Reynolds antara 2100 sampai 4000, dimana jenis aliran itu mungkin laminar dan mungkin turbulen, bergantung pada kondisi di lubang masuk pipa dan jaraknya dari lubang masuk. Berdasarkan pengaruh tekanan terhadap volume, fluida dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :

1.                  Fluida tak termampatkan (incompressible), pada kondisi ini fluida tidak mengalami perubahan dengan adanya perubahan tekanan, sehingga fluida tak termampatkan.

2.                  Fluida termampatkan (compressible), pada keadaan ini fluida mengalami
perubahan volume dengan adanya perubahan tekanan. Contoh fluida compressible adalah gas dan uap.

Untuk fluida incompressible berlaku persamaan umum Bernouli, yang dapat diturunkan dari persamaan neraca energi, yaitu:

 .......................................... (2)

dengan:
ΔZ     : beda tinggi sistem perpipaan pada titik 1 dan titik 2, ft
g        : gaya gravitasi, 32,2 ft/detik2
gc      : konstanta gravitasi 32,2 lbm.ft/lbf.det2
ΔV    : beda kecepatan linier fluida pada titik 1 dan titik 2, ft/det
ΔP     : pressure drop atau beda tekanan dari pada titik 1 dan titik 2, lbf/ft2
Ī        : berat jenis fluida, fluida air, lbm/ft3
F        : friction loss karena gesekan fluida dengan dinding pipa, ft.lbf/lbm
W      : kerja pada sistem, ft.lbf/lbm
                                                                                                          (Giles,1986).
2.4       Head Loss, Friction Loss dan Pressure Drop
2.4.1    Head Loss dan Friction Loss pada Pipa Horizontal
Head loss biasanya dinyatakan dengan satuan panjang. Dalam percobaan ini, head loss adalah harga ∆P yang dinyatakan dengan satuan panjang mmHg atau inHg. Rumus Darcy-Weisbach merupakan dasar menghitung head loss untuk aliran fluida dalam pipa-pipa dan saluran-saluran (Giles, 1986). Harga F sendiri bergantung pada tipe alirannya. Untuk aliran laminar, dimana NRe < 2100, berlaku persamaan :

…………...….…..………..……….(3)

Untuk aliran turbulen dengan NRe > 4000, berlaku persamaan:

 …………………………………..(4)
2.4.2    Head loss dan Friction Loss pada Elbow
Sambungan-sambungan didalam pipa, misalnya elbow, valve, atau tee akan mengganggu pola aliran fluida dan menyebabkan terjadinya rugi gesekan atau friction loss. Friction loss ini biasanya dinyatakan sebagai rugi gesekan yang setara dengan panjang pipa lurus. Untuk 45o elbow, dengan diameter pipa 1 – 3 in misalnya, maka setara dengan panjang pipa 15 x D, sedangkan untuk 90o elbow, dengan diameter 3/8 – 2,5 in misalnya, maka setara dengan panjang pipa 30 x D. Persamaan-persamaan yang digunakan didalam pipa horizontal, termasuk untuk menentukan head loss juga berlaku untuk elbow dengan catatan elbow juga dalam posisi horizontal di dalam sistem perpipaan.
2.4.3    Friction Loss pada Enlargement dan Contraction
  Untuk pipa dimana diameternya berubah dari kecil ke besar, pipa pertama dengan diameter D1 dan pipa kedua dengan diameter D2 (enlargement), dan pipa masih didalam posisi horizontal, tidak ada kerja pada sistem, maka ∆Z =0, W = 0 dengan persamaan :
  ......................................................(5)

Jika  sangat kecil, dan bisa diabaikan terhadap harga dari , maka :
........................................................(6)
2.4.4    Pressure Drop

Pressure  drop  menunjukkan  penurunan  tekanan  dari  titik  1  ke  titik 2 dalam suatu sistem aliran fluida. Penurunan tekanan, biasa dinyatakan juga dengan P saja. Jika manometer yang       digunakan adalah manometer air raksa, dan beda tinggi air raksa dalam manometer H ft, maka :

∆P = H (ĪHg) g/gc                             .………….....…...…………....(7)
(Giles, 1986)
2.4.5    Faktor Gesekan

Gesekan pada pipa dapat menyebabkan hilangnya energi mekanik fluida. Gesekan inilah yang menentukan aliran fluida dalam pipa, apakah laminar atau turbulen. Gesekan juga dapat menimbulkan panas pada pipa sehingga merubah energi mekanik menjadi energi panas. Faktor gesekan f dapat diturunkan secara matematis untuk aliran laminer, tetapi tidak ada hubungan matematis yang sederhana untuk variasi f dengan bilangan Reynold yang tersedia untuk aliran turbulen (Geankoplis, 1993). Nikuradse telah menemukan bahwa kekasaran relatif pipa (perbandingan ukuran ketidaksempurnaan permukaan Īĩ terhadap garis tengah sebelah dalam pipa) mempengaruhi juga harga f (Giles, 1986), dimana :
a.         Untuk aliran laminer disemua pipa untuk semua fluida, harga f adalah ;
 ............................................ ...............(8)


b.              Untuk aliran turbulen:

   Untuk aliran turbulen dalam pipa-pipa mulus dan kasar, hukum-hukum tahanan universal dapat diturunkan dari :
.............................................................(9)
1.      Untuk pipa-pipa mulus, Blasius menganjurkan untukbilangan Reynold antara 3000 dana 100.000 :
.....................................................(10)
Untuk harga-harga bilangan Reynold sampai kira-kira 3.000.000, persamaan Von Karman yang diperbaiki oleh Prandtl adalah:
....................................(11)
2.      Untuk pipa-pipa kasar :
.....................................................(12)
3.      Untuk semua pipa, Lembaga Hidrolik (Hydraulic Institute) dan banyak ahli menganggap bahwa persamaan Colebrook bisa dipercaya untuk menghitung f. Persamaannya adalah:
...............................(13)

Sebelum rumus-rumus ini dapat digunakan, seorang insinyur harus meramalkan kekasaran relatif dari pengalamannya sendiri dan/atau dari orang lain. Harga yang disarankan dari ukuran ketidaksempurnaan permukaan Īĩ untuk permukaan-permukaan yang baru dapat dilihat pada Diagram Moody (Geankoplis,1993).

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1       Alat-Alat yang Digunakan
1. General Arrangement of Apparatus
2. Manometer Connection Diagram
3. Internal Vernier Caliper
4. Stopwatch

3.2       Bahan yang Digunakan
Air

3.3       Prosedur Percobaan
1.      Tangki diisi dengan air, lalu pompa dihidupkan.
2.      Valve yang akan digunakan dibuka sehingga air akan mengalir melalui pipa yang diinginkan sesuai penugasan.
3.      Ketika akan menentukan head loss pada pipa 2, maka aliran selain menuju pipa tersebut ditutup dengan menutup valvenya.
4.      Valve dibuka sesuai penugasan (25%, 50%, 75%, dan 100%)
5.      Untuk menentukan kecepatan volumetrik air, aliran air dibuka. Dengan menggunakan stopwatch, dihitung waktu yang dibutuhkan untuk mengalirkan air setiap 7, 12, 18, 20, 25 dan 30 liter.
6.      Selang untuk menentukan preassure drop disambungkan dengan alat manometer dan dua titik pada pipa 2, ketika aliran air dihentikan maka pembacaan pada manometer dilakukan.
7.      Cara yang sama dilakukan untuk menentukan head loss pada pipa 4, pipa elbow 45o, elbow 90 o, serta pada enlargement dan contraction.

3.4       Rangkaian Peralatan
Rangkaian peralatan pada percobaan aliran fluida dalam sistem perpipaan dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1 General Arrangement of Apparatus


Keterangan :
V1  = Sump tank drawing valve
V2  = Inlet flow control valve
V3  = Air bleed valves
V4  = Isolating valves
V5  = Outlet flow control valve (fine)
V6  = Outlet flow control valve    (coarse)
V7  = Manometer valves
1       = 6 mm smooth bore test pipe
2      = 10 mm smooth bore test pipe
3      = Artificially roughened test pipe
4      = 17.5 mm smooth bore test pipe
5      = Sudden contraction
6      = Sudden enlargement
7      = Ball valve
8      = 45 deg. Elbow
9      = 45 deg. “ Y “ junction
10  = Gate valve
11  = Globe valve
12  = In-line strainer
13  = 90 deg. Elbow
14  = 90 deg. Bend
15  = 90 deg. “ T “ Junction
16  = Pitot static tube
17  = Venturimeter
18  = Orifice meter
19  = Test pipe sample
20  = 1 m mercury manometer
21  = 1 m Pressurised water   manometer
22  = Volumetric measuring tank
23  = Sump tank
24           = Service pump
25           = Sight tube
26           = Pump start / stop
27           = Sight gauge securing screws
28           = Dump valve
























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1       Head Loss dan Friction Loss di dalam Pipa Horizontal
                   Dalam percobaan percobaan head loss dan friction loss di dalam pipa horizontal, aliran fluida tidak di pengaruhi oleh diameter pipa karena aliran fluida hanya mengalir di dalam pipa dengan diameter yang sama. Selain itu, pipa yang digunakan dalam percobaan ini terdiri dari 2 pipa dengan diameter yang berbeda.
4.1.1    Pada Pipa 2
            Pada percobaan head loss dan friction loss di dalam pipa horizontal ini digunakan pipa 2 yang memiliki diameter 0.9 cm dengan panjang 42 cm. Data hasil pehitungan percobaan ditunjukkan pada tabel 4.1 sebagai berikut.
Tabel 4.1 Hasil Perhitungan Head Loss dan Friction Loss
Bukaan Valve
Kecepatan Volumetrik
Head Loss
Friction Loss
25%
17.59 ft/s
264.5276 ft/lbm
5.2343 ft/lbm
50%
17.696 ft/s
292.3726 ft/lbm
5.2975 ft/lbm
75%
18.367 ft/s
286.8036 ft/lbm
5.7069 ft/lbm
100%
18.583 ft/s
286.8036 ft/lbm
5.8420 ft/lbm

Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa semakin besar bukaan valve maka akan semakin besar juga kecepatan volumetriknya. Kecepatan volumetrik dipengaruhi oleh besarnya debit air yang mengalir di dalam pipa 2 dan luas pipa 2. Kecepatan volumetrik berbanding lurus dengan debit air dan berbanding terbalik dengan luas pipa 2. Sehingga semakin besar debit air yang mengalir dan semakin kecil luas pipa 2 maka akan semakin besar juga kecepatan volumetriknya. Dalam percobaan ini, kecepatan volumetrik terbesar pada bukaan valve 100% yaitu sebesar 18.583 ft/s. Sedangkan kecepatan volumetrik terkecil pada bukaan valve 25% yaitu sebesar 17.59 ft/s.

100 %
 

75 %
 
 
Gambar 4.1 Grafik Head Loss VS Friction Loss pada Pipa 2 dengan variasi valve

            Dalam percobaan ini, friction loss akan semakin meningkat sebanding lurus dengan semakin meningkatnya kecepatan volumetrik. Dari grafik 4.1 bisa dilihat secara umum terjadi kenaikan pada grafiknya. pada bukaan valve 25%, head loss yang dihasilkan sebesar 264.5276 ft/lbm dengan friction loss sebesar 5.2343 ft/lbm. Untuk bukaan valve 50%, head loss yang dihasilkan sebesar 292.3726 ft/lbm dengan friction loss sebesar 5.2975 ft/lbm. Pada bukaan valve 75%, head loss yang dihasilkan sebesar 286.8036 ft/lbm dengan friction loss sebesar 5.7069 ft/lbm. Untuk bukaan valve 100%, head loss yang dihasilkan sebesar 286.8036 ft/lbm dengan friction loss sebesar 5.8420 ft/lbm.
            Dari grafik 4.1 bisa dilihat bahwa terjadi penurunan head loss pada bukaan valve 75% hal ini terjadi karena volume air yang mengalir di dalam pipa 2 pada bukaan valve 75% sangat memenuhi diameter pipa sehingga perubahan tekanan yang terjadi juga berkurang. Hal ini juga terjadi pada bukaan valve 100%.




4.1.2    Pada Pipa 3
Pada percobaan head loss dan friction loss di dalam pipa horizontal ini digunakan pipa 3 yang memiliki diameter 1.9 cm dengan panjang 100 cm. Data hasil pehitungan percobaan ditunjukkan pada tabel 4.2 sebagai berikut.
Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Head Loss dan Friction Loss
Bukaan Valve
Kecepatan Volumetrik
Head Loss
Friction Loss
25%
6.5376 ft/s
245.0361 ft/lbm
0.3868 ft/lbm
50%
7.1355 ft/s
278.4501 ft/lbm
0.4610 ft/lbm
75%
7.2250 ft/s
278.8036 ft/lbm
0.4724 ft/lbm
100%
7.3250 ft/s
286.8036 ft/lbm
0.4856 ft/lbm

Dari tabel 4.2 dapat dilihat bahwa semakin besar bukaan valve maka akan semakin besar juga kecepatan volumetriknya. Kecepatan volumetrik dipengaruhi oleh besarnya debit air yang mengalir di dalam pipa 3 dan luas pipa 3. Kecepatan volumetrik berbanding lurus dengan debit air dan berbanding terbalik dengan luas pipa 3. Sehingga semakin besar debit air yang mengalir dan semakin kecil luas pipa 3 maka akan semakin besar juga kecepatan volumetriknya. Dalam percobaan ini, kecepatan volumetrik terbesar pada bukaan valve 100% yaitu sebesar 7.3250 ft/s. Sedangkan kecepatan volumetrik terkecil pada bukaan valve 25% yaitu sebesar 6.5376 ft/s.
Gambar 4.2 Grafik Head Loss VS Friction Loss pada Pipa 3 dengan variasi valve
            Dalam percobaan ini, friction loss akan semakin meningkat sebanding lurus dengan semakin meningkatnya kecepatan volumetrik. Dari grafik 4.2 bisa dilihat secara umum terjadi kenaikan pada grafiknya. pada bukaan valve 25%, head loss yang dihasilkan sebesar 245.0361 ft/lbm dengan friction loss sebesar 0.3868 ft/lbm. Untuk bukaan valve 50%, head loss yang dihasilkan sebesar 278.4501 ft/lbm dengan friction loss sebesar 0.4610 ft/lbm. Pada bukaan valve 75%, head loss yang dihasilkan sebesar 278.8036 ft/lbm dengan friction loss sebesar 0.4724 ft/lbm. Untuk bukaan valve 100%, head loss yang dihasilkan sebesar 286.8036 ft/lbm dengan friction loss sebesar 0.4856 ft/lbm.

Gambar 4.3 Grafik Perbandingan Head Loss VS Friction Loss pada Pipa 2 dan 3
Dengan Variasi Bukaan Valve

            Dari gambar 4.3 dapat dilihat bahwa pada bukaan valve 25%, head loss pipa 2 lebih besar dibandingkan dengan head loss pipa 3. Selain itu pada bukaan valve 50%, head loss pipa 2 lebih besar dibandingkan dengan head loss pipa 3. Hal ini terjadi dikarenakan diameter pipa 2 lebih kecil dibandingkan pipa 3 sehingga head loss juga lebih besar.         
4.2       Head Loss dan Friction Loss di dalam elbow
            Dalam perobaan head loss dan friction loss di dalam elbow digunakan pipa elbow 45 dan 90.
4.2.1    Elbow 45
            Data hasil percobaan untuk pipa elbow 45 ditunjukkan pada table 4.3 sebagai berikut.
Tabel 4.3 Data percobaan pada elbow 45o
Bukaan Valve
Volumetrik (ft/s)
Friction Loss (Ft/Lbm)
Headloss rata-rata (Lb/ft2)
25 %
7,45597
0,14320459
64,0435
50 %
8,578949
0,1895994
64,0435
75%
8,659991
0,19319849
69,6125
100%
8,683146
0,19423302
69,6125

Gambar 4.4 Grafik Head Loss VS Friction Loss pada Pipa Elbow 45 dengan variasi bukaan valve

            Pada elbow 45o pipa yang digunakan adalah pipa 4. Pada tabel 3.1 dapat dilihat data-data hasil percobaan pada elbow 45o. Dapat dilihat volumetrik bertambah besar dengan bertambah besar nya bukaan pada valve. Hal ini sesuai dengan persamaan dari volumetrik yaitu  dengan   . Dari persamaan tersebut dapat dilihat bahwa ketika q semakin besar maka akan semakin besar pula volumetrik yang akan dihasilkan. Hal ini juga akan mempengaruhi friction loss dimana persamaan frictionloss adalah  sehingga friction loss sangat berkaitan dengan volumetrik. Ketika volumetrik semakin besar maka akan semakin besar pula frictionloss yang terjadi sepanjang lintasan dan begitu juga dengan headlossnya.
4.2.2 Elbow 90
            Data hasil percobaan pada elbow 90 ditunjukkan pada table data 4.3 sebagai berikut:
Tabel 4.3 Data percobaan pada elbow 90o
Bukaan Valve
Volumetrik (ft/s)
Friction Loss (Ft/Lbm)
Headloss rata-rata (Lb/ft2)
25 %
7,316998
0,27584473
41,7675
50 %
8,28951
0,35404346
64,0435
75%
8,428441
0,36601028
66,828
100%
8,781555
0,39732116
69,6125

Gambar 4.5 Grafik Head Loss VS Friction Loss pada Pipa Elbow 90 dengan variasi bukaan valve

Pada elbow 90o pipa yang digunakan adalah pipa 5. Pada tabel 3.2 dapat dilihat data-data hasil percobaan pada elbow 90o. Dapat dilihat volumetrik bertambah besar dengan bertambah besar nya bukaan pada valve. Hal ini sesuai dengan persamaan dari volumetrik yaitu  dengan   . Dari persamaan tersebut dapat dilihat bahwa ketika q semakin besar maka akan semakin besar pula volumetrik yang akan dihasilkan. Hal ini juga akan mempengaruhi friction loss dimana persamaan frictionloss adalah  sehingga friction loss sangat berkaitan dengan volumetrik. Ketika volumetrik semakin besar maka akan semakin besar pula frictionloss yang terjadi sepanjang lintasan dan begitu juga dengan headlossnya. Perbedaan pada elbow ini terletak pada frictionloss nya. Dengan diameter pipa yang sama, elbow 90o memiliki frictionloss yang lebih besar dari elbow 45o karna pada elbow 45o nilai L hanya setara 15xD elbow sementara pada elbow 90o nilai L setara dengan 30XD elbow dengan diameter pada kedua elbow ini sebesar 1,9 cm.
4.3       Head Loss dan Friction Loss didalam Pipa Enlargement dan Contraction
4.3.1    Pipa Enlargement
            Percobaan untuk kondisi enlargement dilakukan pada pipa 2. Pipa enlargement adalah pipa dengan diameternya berubah dari kecil ke besar, pipa pertama dengan diammeter  0.0196848 ft dan pipa kedua dengan diameternya 0.0623352 ft. Perbedaan diameter pipa akan berpengaruh terhadap head loss dan friction loss pada pipa enlargement. 
            Data dari percobaan head loss dan fiction loss  pada pipa enlargement  bisa dilihat melalui grafik berikut:
Gambar 4.6 Grafik Head Loss VS Friction Loss pada Pipa Enlargement dengan Variasi Bukaan Valve

            Percobaan dilakuakan dengan variasi bukaan valve yaitu 25%, 50%, 75%, dan 100%. Masing-masing bukaan lalu dihitung kecepatan volumtrik setiap 7 L, 12 L, 18 L, 20 L, 25 L dan 30 L. Kemudian disetiap mengukur kecepatan volumetrik fluida, maka presure drop fluida juga dihiting.
            Berdasarkan grafik yang ditampilkan diatas, maka dapat dilihat adanya hubungan antara besarnya head loss dan besarnya friction loss. Data grafik menunjukkan bahwa nilai friction loss berbanding lurus dengan  nilai head loss dari percobaan  aliran fluida di pipa enlargement. Nilai friction loss terbesar adalah 27.15158 ft/lbm yang terjadi ketika bukaan valve 100% dan memilliki nilai head loss sebesar 477 mmHg. Nilai friction loss terkecil adalah 24.85455 ft/lbm yang terjadi ketika bukaan valve 25% dan memiliki nilai head loss sebesar 473.
            Dalam percobaan ini, dapat dilihat bahwa nilai head loss saat bukaan 25% dan 50% itu sama, serta niilai head loss pada bukaan valve 75% dan 100% itu juga sama. Sebenarnya nilai ini memiliki perbedaan, dimana nilai head loss harusnya berbanding lurus dengan bukaan valve aliran fluida. Namun karena kami mengamati nilai head loss secara manual, maka keteliatian pengamatan mungkin kurang akurat.
4.3.1    Pipa Contraction
            Percobaan untuk kondisi contraction dilakukan pada pipa 2. Pipa contraction adalah pipa dengan diameter pipa berubah dari diameter besar ke diameter kecil, dari pipa dengan diameter 0.062335 ft ke pipa dengan diameter 0.019685 ft. Perbedaan ukuran pipa akan berpengaruh terhadap nilai head loss dan friction loss aliran fluida.
            Data dari percobaan head loss dan fiction loss  pada pipa contraction  bisa dilihat melalui grafik berikut:
Gambar 4.7 Grafik Head Loss VS Friction Loss pada Pipa Contraction
Dengan variasi bukaan valve

            Percobaan dilakukan dengan variasi bukaan valve yaitu 25%, 50%, 75% dan 100%. Setiap bukaan dihitung juga  kecepatan volumetriknya setiap 7 L, 12 L, 18 L, 20 L, 25 L, dan 30 L. Selanjutnya presure drop pada pipa contracrion juga dihitung bersamaan dengan dihitungnya waktu pengisian untuk masing- masing volume 7 L, 12 L,  18 L, 20 L, 25 L,  dan 30 L.
            Grafik menunjukkan nilai head loss vs friction loss pada pipa contraction. Berdasarkan grafik dapat dilihat bahwa nilai head loss berbanding lurus dengan friction loss. Nilai friction loss terbesar adalah 11.04676 ft/lbm terjadi saat bukaan 100% dengan nilai head loss 147 mmHg. Sedanngkan nilai friction loss terkecil adalah 10.06209 ft/lbm terjadi saat bukaan 25% dengan nilai head loss 140 mmHg.
            Jika dibandingkan dengan pipa enlargement, pipa contraction ternyata memiliki nilai friction loss yang lebih kecil. Nilai friction loss pipa enlargement saat bukaan 100% adalah 27.15158 ft/lbm lebih besar dari nilai friction loss pipa contractiom bukaan 100% yaitu 11.04676 ft/lbm. Untuk nilai head loss, pipa enlargement memiliki nilai head loss lebih besar dibandingkan dengan pipa contraction. Nilai head loss terbesar pipa enlargement adalah 477 mmHg, sedangkan nilai head loss pipa contaction terbesar adalah 147 mmHg. Jadi dapat disimpulkan bahwa, pipa enlargement mengalirkan fluida lebih lambat dibandingkan dengan pipa contraction. Hal ini disebabkan oleh tingginya nilai head loss dan friction loss. Semakin tinggi nilai friction loss dan head loss, maka kerugian akibat gesekan fluida dengan dinding pipa akan semakin besar, sehingga menghambat aliran fluida.